A topnotch WordPress.com site

Aside

PSIKOLOGI UMUMPENGERTIAN PSIKOLOGI DAN ALIRAN-ALIRANNYAPengertian psikologiPsikologi berasal dari


PSIKOLOGI UMUM

PENGERTIAN PSIKOLOGI DAN ALIRAN-ALIRANNYA

  1. Pengertian psikologi

Psikologi berasal dari kata Yunani  “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi artinya Ilmu  yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut Ilmu Jiwa.[1]

Dahulu psikologi oleh ilmu pengetahuan diartikan tentang jiwa manusia. Ternyata arti ini dilihat dari segi ilmu pengetahuan diartikan tentang jiwa manusia. Ternyata arti ini dilihat dari segi ilmu pengetahuan kurang tepat, disebabkan karena “jiwa” itu secara ilmiah merupakan sesuatu yang tidak dapat diteropong, tidak dapat diamati. Karena yang dipelajari oleh psikologi adalah perilaku manusia.[2]

Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai manifestasi kehidupan jiwa dalam interaksi dengan lingkungannya. Tingkah laku yang dimaksud adalah tingkah laku dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hidup yaitu mencakup tingkah laku: motoris, kognitif, konatif, dan afektif  serta mencakup tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.[3]

Yang dimaksud dengan tingkah laku motoris ialah tingkah laku yang berbentuk gerakan-gerakan seperti berjalan, berlari, duduk mengangguk, berbicara, gerakan ini disadari ataupun tidak disadari, hal ini merupakan kegiatan urat syaraf yang berhubungan sangat erat dengan adanya suatu kegiatan gerak phisik seseorang untuk mencapai keterampilan.

Yang dimaksud dengan tingkah laku kognitif ialah tingkah laku yang berupaya mengenali lingkungan seperti seseorang mempelajari lingkungannya, melakukan observasi, mengintai, dan mengasosiasikan sesuatu yang dilihatnya kepada pengamatan yang telah dijumpainya.

Yang dimaksud dengan tingkah laku konatif ialah kegiatan-kegiatan yang berupa dorongan-dorongan yang ada dalam diri individu sehingga ia bertingkah laku lebih giat dari sebelumnya dan dapat menimbulkan keinginan,kemauan, hasrat, dan kehendak.

Yang dimaksud dengan tingkah laku afektif adalah kegiatan yang dipengaruhi oleh emosi atau perasaan seperti rasa senang, rasa benci, cemburu dan rasa bahagia.[4]

Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah (organic behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Misalnya: insting, refleks, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.[5]

Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial dan lingkungan.[6]

Psikologi secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme, dan lingkungan eksternal.[7]

Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia. Karena para ahli jiwa mempunyai penekanan yang berbeda, maka definisi yang dikemukakan juga berbeda-beda.

  1. Dr. Singgih Dirgagunarsa:

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia,

  1. John Broadus Watson, Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan panca indera, pikiran, merasa (feeling) dan kehendak.
  2. Woodworth dan Marquis

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktifitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Jadi, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dalam mana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingungannya.[8]

 

 

 

 

  1. Aliran-Aliran dalam Psikologi
  2. Strukturalisme

Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertama kali dikemukakan oleh Wundt setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di laboratoriumnya di Leipzig.

Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawaan-persenyawaan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi.

Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan struktur kejiwaan.

Kaum strukturalis, menggunakan metode introspeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen. Misalnya, kepada percobaan ditunjukkan sebuah warna atau bentuk, setelah itu, ia diminta untuk mengatakan apakah bentuk itu indah atau tidak indah, menarik atau tidak menarik, dan sebagainya. Karena metode instrospeksi ini, strukturalisme juga disebut sebagai psikologi introspeksi (instrospective psychology).

Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen kesadaran tersebut. Karena pandangannya yang elementalistik, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme.[9]

  1. Fungsionalisme

Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalisme tentang keadaan men-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya “Apa kesadaran itu?”, para fungsionalis bertanya “Untuk apa kesadaran itu?”. Apa tujuan dan fungsimya? Karena ingin mempelajari cara orang menggunakanm pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar, mereka disebut fungsional.

Drever menyebut fungsionalisme sebagai suatu jenis psikologi yang menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan; atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, bukan dari sudut pandang yang statis.

Fungsionalisme merupakan paham yang tumbuh di Ameriak Serikat dengan sifat-sifat bangsa Amerika yang serba praktis dan pragmatis. Strukturalisme, di lain pihak, tumbuh di Jerman, di tengah-tengah bengsa yang terkenal denga keahliannya dalam berfilsafat dan berteori. Dengan sendirinya, perbedaan latar belakang ini menimbulkan pula berbagai perbedaan antara kedua aliran ini.

Perbedaan pertama, terletak pada cara pendekatannya, strukturalisme mendekati suatu gejala psikis secara struktural; artinya, pengalaman-pengalaman kesadaran dianalisis dalam unsur-unsurnya. Peryanyaan yang timbul dalam menghadapi suatu tingkah laku adalah “ Apa unsur-unsurnya dan bagaimana unsur-unsur ini bergabung?” Fungsionalisme, di lain pihak, mendekati suatu gejala psikis secara fungsional. Pengalaman kesadaran dilihat dalam hubungan dengan fungsinya untuk hidup dan fungsinya untuk menyesuaikan diri, baik secara psikis maupun secara sosial. Pertanyaan yang muncul dalam menghadapi tingkah laku adalah “Mengapa dan buat apa suatu tingkah laku itu diperbuat orang?”.

Perbedaan kedua, adalah strukturalisme memperhatikan isi jiwa seseorang, sedangkan fungsionalisme lebih menitikberatkan aksi dari seseorang.

Perbedaan ketiga, kalau strukturalisme beranggapan bahwa jiwa seseorang merupakan penggabungan berbagai pengalaman kesadaran, fungsionalisme beranggapan bahwa jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri.

  1. Psikoanalisis

Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering dianalogikan denga revolusi Convernican dalam natural science; dicaci, ditolak, tapi pada akhirnya diagungkan.

Kritik terhadap Sigmund Freud sebagai “bapak psikoanalisis” lebih didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak baku, subjektif, dan jumlah klien sedikit dan semuanya pasien klinis (penderita gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak bisa menerima bahwa analisis dari para pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada populasi umum.

Di pihak lain, Freud dianggap banyak memberi kontribusi pada perkembangan psikologi, khususnya dalam hal mengembangkan konsep motivasi dari alam ketidak sadaran dan mengarahkan fokus penelitian pada pengaruh pengalaman masa awal kehidupan atau masa anak terhadap perkembangan kepribadian selanjutnya sampai dewasa. Disamping itu, Freud juga merangsang studi intensif tentang emosi, yaitu cinta, takut, cemas, dan seks.

Dalam soal seks, teori Freud yang menyertakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualita), mendapat tantangan keras.

Teori Freud yang banyak menyelidiki sexual instinct manusia merupakan daya tarik, sekaligus sumber kehebohan. Seksualitas, bagi Freud, merupakan daya hidup. Libido, istilah Freud, merupakan  Life Instinct yang memberi motivasi manusia untuk makan, minum, beristirahat  dan prokreasi.

Psikologi yang berkembang sewaktu Freud mencuatkan teorinya banyak memfokuskan perhatian pada “kesadaran” manusia. Tak pelak, “ketidak sadaran sebagai aspek psikis terpenting. Freud berkeyakinan bahwa perilaku dan kepribadian manusia banyak dipengaruhi oleh ketidaksadaran.

Singkatnya aliran ini mengatakan bahwa perilaku didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku tidak disadari.

  1. Behaviorisme (kelakuan)

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burhus Frederic Skinner.

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme ( yang menganalisis jiwa manusia beradasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis ( yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya.

Jadi, kaum behaviorisme berpendapat bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. [10]


[1] Abu Ahmadi,Psikologi Umum,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2003),hal.1

[2] Soesanto kartoatmojo,Parapsikologi,(Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,1995), hal. 11

[3] Akyas Azhari, Psikologi Pendidikan,(Jakarta:Dina Utama Semarang,1995), hal. 7-8

[4] Ibid,hal.9

[5] Abu Ahmadi,Psikologi Umum,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2003),hal.1

[6] Ibid,hal.1

[7] Carol Wade dan Carol Travis, Psikologi,(Jakarta:Erlangga,2007), hal. 3

[8] Abu Ahmadi,Psikologi Umum,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2003),hal.5

[9] Alex Sobur, psikologi Umum, (Bandung:Pustaka Setia,2003),hal.104-105

[10] Ibid, hal.103-121

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s