A topnotch WordPress.com site

Aside

BAB IPENDAHULUANUmat islam agar selalu dapat berpacu dan


BAB I

PENDAHULUAN

Umat islam agar selalu dapat berpacu dan mengembangkan diri harus selalu melakukan inovasi serta berkreativitas supaya dapat mencapai keutuhan  dan kesempurnaan hidup. Hal ini nampaknya sudah menjadi perhatian khalifah atau penguasa pada masa-masa jayanya Islam yang terletak pada masa Daulah Abbasiyah, segenap kemampuan dan perhatian dicurahkan untuk membangun sebuah peradaban, dengan dijadikannya Baghdad sebagai pusat ibu kota pemerintahan di dalamnya berdiri istana dan bangunan yang megah dengan seni bangunan Arab Persia masa itu. Pada masa itu Islam mencapai puncak kejayaannya. Banyaknya bangunan-bangunan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan intelektual melalui perpustakaan seperti Baitul Hikmah. Kejayaannya juga dirasakan oleh masyarakat yang telah bersentuhan dengan dunia luar termasuk juga di barat.

Namun, pasang surut sebuah dianasti, sebagaimana disebut Ibnu Khaldun, merupakan bagian dari siklus sejarah yang bersifat faktual. Sebagai sebuah pemerintahan atau kekuasaan Islam yang pernah jaya, juga tidak terlepas dari kemunduran atau keruntuhan. Kemunduran atau keruntuhan ini berpengaruh besar terhadap peradaban Islam, begitu juga dengan bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.     KEHANCURAN BAGHDAD (1258 M)

Masa Daulah Abbasiyah dikenal sebagai masa keemasan. Karena pada masa ini Islam mencapai puncak kejayaannya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan berbagai kemajuan di bidang lain sehingga Daulah Abbasiyah pada waktu itu merupakan pusat perhatian dunia dan jasa-jasa Daulah Abbasiyah masih dapat dirasakan sampai sekarang. Banyak para ilmuan Islam yang dilahirkan pada masa ini seperti Ibnu Sina yang terkenal dengan kitabnya Al-Qanun Fi Ath-Thib, Jabir bin Hayyan dan masih banyak lagi ilmuan Islam yang berpengaruh besar dalam bidang ilmu pengetahuan.

Namun, sebagai sebuah kerajaan pasti mengalami pasang surut, bahkan mengakibatkan kehancuran kerajaan tersebut. Kehancuran sebuah kerajaan akan sangat berpengaruh terhadap segala aspek dalam negara tersebut, tidak luput pula dalam hal pendidikan.

 

  1. B.     FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
    1. 1.      Faktor Internal
      1. a.      Konflik Internal Keluarga Islam

Perpecahan, perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam keluarga Abbasiyah sendiri. Walaupun hal tersebut terjadi di dalam lingkungan keluarga sendiri, namun mempunyai pengaruh yang dalam dan luas, termasuk pengaruhnya terhadap pendidikan Islam.[1]

Perebutan kekuasaan di kalangan anak-anak khalifah sering membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka sendiri, bahkan menjurus kepada persaingan antarbangsa. Ketika Harun al-Rasyid wafat, sebetulnya sudah pernah ada konflik antara anaknya yaitu Al-Amin yang didukung oleh orang Arab dan Al-Makmun yang  didukung oleh orang Parsi, yang menjurus pada perang saudara, akan tetapi konflik itu bisa diatasi dan Al-Makmun mampu membawa kemajuan bagi Islam, akan tetapi konflik keluarga yang terjadi antara anak khalifah pada masa bani Buwaih membawa kehancuran dan kemunduran mereka.[2]

Kehadiran Bani Buwaih berawal dari tiga orang putra Abu Syuja’ Buwaih, pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki. Karena prestasi mereka, Mardawij ibnu Zayyar ad-Dailamy (panglima) mengangkat Ali menjadi gubernur Al-Karaj, dan dua saudaranya diberi kedudukan penting lainnya.[3] Dari sinilah mulai adanya gerakan yang melahirkan pemerintahan bani Buwaih yang beribukota di Syiraz, Persia.[4]

Karena perebutan kekuasaan tersebut, khalifah yang diangkatpun pada waktu itu adalah orang yang lemah yaitu khalifah setelah al-Mutawakkil menjabat, karena kelemahan khalifah, posisi kemudian direbut oleh Bani Buwaih.[5]

  1. b.      Kemerosotan Ekonomi

Gaya hidup khalifah yang berlebih-lebihan yang diikuti oleh para pengawal-pengawalnya banyak menghabiskan uang di Baitul Mal.[6] Pengeluaran makin beragam ditambah lagi banyak para pejabat yang melakukan korupsi.[7] Hal ini diperparah dengan menurunnya pendapatan negara disebabkan semakin sempitnya wilayah kekuasaan karena diperingannya pajak, banyaknya dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak membayar upeti.[8]

  1. c.       Kelemahan Sebagian Dari Para Khalifah

Pada dasarnya suatu pemerintahan jika dipimpin oleh kepala pemerintahan yang kuat maka pemerintahan tersebut akan kuat, sebaliknya jika kepala pemerintahan itu lemah maka pemerintahan akan lemah pula sehingga mengakibatkan kemunduran dari pemerintahan itu sendiri. Kelemahan-kelemahan khalifah merupakan salah satu sebab dari mundurnya Daulah Abbasiyah.

Pada masa khalifah al-Mu’tashim banyak direkrut jajaran militer dari budak-budak Turki. Dan terkadang golongan elit dari mereka diangkat menjadi gubernur di beberapa wilayah dinasti Abbasiyah. Hal ini menjadikan dominasi militer semakin kuat sehingga khalifah al-Mu’tasim memindahkan pusat pemerintahan dari Baghdad ke Sammara 80 mil sebelah Utara Kota baghdad.

Dalam perkembangan kemudian, pada masa al-Watsiq yaitu khalifah setelah al-Mu’tashim berkuasa, al-Watsiq menganugerahkan gelar sultan kepada Asyinas seorang panglima asal Turki, yang memadamkan pemberontakan Babik al-Khurani. Dengan mendapat gelar sultan membuat panglima Turki ini memiliki kekuasaan dan kewenangan yang sangat besar. Di masa setelah al-Watsiq khalifah hanya sebagai simbol karena yang berkuasa adalah orang-orang Turki dan Persia. Setelah al-Watsiq meninggal ia digantikan oleh al-Mutawakkil atas persetujuan orang-orang Turki.[9]

Pada masa al-Mutawakkil  gerakan   militer Turki secara perlahan membangun kekuatan dalam daulah. Mereka secara perlahan mengendalikan jalannya administrasi pemerintahan Daulah Abbasiyah. [10]

Pada masa al-Mutawakkil, orang-orang Mu’tazilah disingkirkan.[11] Penerjemahan buku-buku yang berasal dari luar Islam dihentikan, dan dilarang mempelajari Filsafat karena dianggap dapat merusak akidah umat Islam.

Anaknya al-Muntashir melakukan konspirasi[12] jahat dengan pemimpin Turki, mereka membunuh Mutawakkil tahun 247 H/861 M. Setelah wafatnya, orang-orang Turki sudah menguasai jabatan-jabatan penting secara penuh, sedang khalifah hanya sebagai simbol yang boleh mereka ganti bahkan dibunuh.[13]

Begitulah seterusnya, khalifah hanya sebagai simbol bagi umat Islam.  

  1. d.      Luasnya Wilayah

Luasnya wilayah yang harus dikendalikan, merupakan suatu  penyebab lambatnya penyampaian informasi dan komunikasi. Ini semua bukan tidak diatasi, tetapi suatu syarat  untuk menyatukan suatu wilayah yang sangat luas, ialah harus ada suatu tingkat saling percaya yang tinggi di kalangan penguasa-penguasa dan ulama dan para pelaksana pemerintahan. Di dunia Islam abad ke X kepercayaan seperti ini sudah berkurang, dan syariat tidak pernah diterpakan dalam hubungan antara para menteri dan pejabat tinggi satu sama lain dan pada khalifah.[14]

  1. e.       Fanatisme Keagamaan

Fanatisme keagamaan berkaitan dengan persoalan kebangsaan. Karena tidak semua cita-cita orang Persia tercapai, maka kekecewaan mendorong sebagian orang-orang Persia mempropagandakan gerakan Zindik.[15] Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya berlindung dalam ajaran Syiah, sehingga muncullah aliran syi’ah yang dipandang ekstrem yang dianggap menyimpang dalam pandangan syiah sendiri.

Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas antarmuslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syiah tetapi juga aliran-aliran dalam Islam, sehingga mu’tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan salaf.[16]

 

  1. 2.      Faktor Eksternal
    1. a.      Perang Salib

Perang Salib merupakan simbol perang agama yang timbul atas ketidaksenangan komunitas Kristen terhadap pengembangan Islam di Eropa. Orang-orang kristen Eropa terpanggil untuk berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Sehingga membakar semangat orang-orang Kristen yang berada dalam wilayah kekuasaan Islam.[17]

Walaupun perang Salib dimenangkan oleh Umat Islam tapi karena perang ini terjadi di daerah Islam maka umat Islam menderita kerugian besar.

  1. b.      Serangan Tentara Mongol

Setelah perang Salib, tentara Mongol juga melakukan penyerangan ke wilyah kekuasaan Islam, gereja kristen berasosiasi dengan orang Mongol yang sangat anti Islam sehingga Mongol dapat memporak perandakan kota-kota yang menjadi pusat pendidikan Islam.[18]

Hadirnya tentara Mongol dibawah pimpinan Hulaghu Khan merupakan serangan yang secara langsung memhancurkan daulah bani Abbasiyah. Pusat-pusat ilmu pengetahuan, baik yang berupa perpusta-kaan maupun lembaga-lembaga pendidikan diporak-porandakan dan dibakar sampai punah tak berbekas. Dalam konteks seperti ini sudah barang tentu dunia pendidikan tidak mendapat ruang gerak yang memadai, segala aspek yang menunjang perkembangannya serba terbatas. Oleh karena itu, pada masa-masa seperti ini dunia Islam tidak dapat melahirkan pemikir-pemikir yang kritis. Kebebasan mimbar dan  akademik yang menjadi roh atau jantung pengembanagan Islam satu per satu surut dan sirna.[19]

Serangan ini berlangsung selama 40 hari dimulai dari bulan Muharram sampai pertengahan Safar telah memakan korban sebanyak  ± 2 juta jiwa. Khalifah sendiri terbunuh pada penyerangan tersebut bersama putra-putrinya.[20]

Serangan ini terjadi pada masa Khalifah al-Mu’tashim yaitu khalifah terakhir dari daulah bani Abbasiyah.

  1. C.     KEHANCURAN CORDOVA

Setelah mencapai kejayaan / kemajuan dan kesuksesan kurang lebih selama delepan abad, Andalusia (Spanyol) menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Keberadaan peradaban Andalusia (Spanyol) dengan Cordova sebagai pusat ibu kota negaranya yang begitu besar, tak mampu bertahan lebih lama. Jika Baghdad mengalami masa kemunduran dan kehancuran setelah mencapai puncak kejayaannya, maka Cordova di Andalusia mengalami hal yang sama.[21]

Akhir pada tahun 404 H/ 1013 M, Spanyolpun sudah terpecah, banyaknya sekali negara-negara kecil muncul yang berpusat di kota-kota tertentu, pada  tahun 404-479 H/1030-1086 M ketika Spanyol sudah terpecah  karena banyak sekali negara kecil bermunculan,  tidak kurang dari dua puluh yang disebut Imarah. Negara-negara kecil itu ialah Asyibiliyah , Jilan , Syarkustan, al- Sagr, Taitatullah, Garnadah, Qarmunah, al-Jaziratul Khudra, Marsiah, Balamsiah, Turtustiyah, Laridah, Bajah, al-Mariah, Malaghah, Batalyus, Lisbonah, Qurtubah, Sabtar dan Jazair al-Hajr. Pemerintahannya di bawah raja-raja (al-Muluk al-Thawaif), yang berpusafat di Seville, Toledo, Cordova, dan sebagainya.

Pada periode ini umat Islam Spanyol memasuki pertikaian internal, ironisnya kalau terjadi perperangan saudara antara pihak-pihak yang bertikai  mereka meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Kelemahan dan kekacauan menimpa islam, dimanfaatkan oleh orang-orang Kristen untuk mengambil inisiatif penyerangan. Kehidupan intelektual terus berkembang, istana-istana terus mendorong  pasca sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain. Persaingan dan perebutan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan Islam dan juga Kristen, merubah kerajaan  yang tadinya dua puluh  menjadi lima kerajaan , karena yang lemah dan tidak mampu mempertahankan diri dikuasai yang lebih kuat, kerajaan-kerajaan itu ialah:

  1. Kerajaan Zaragoza dipimpin raja Ibn Hud
  2. Kerajaan Toledo dipimpin Ibn Zun-Nun
  3. Kerajaan Seville dipimpin raja Ibn Ibad
  4. Kerajaan Bodays dipimpin raja Ibn Ifthis
  5. Kerajaan Cardova dipimpin raja Ibn Jahur

Perpecahan dalam beberapa negara kecil terus berkembang di Spanyol tahun 479-646H/1086-1248M. Tetapi masih ada satu yaitu Dinasti Murabitun (479-538H/1086-1143M), kemudian dilanjutkan dinasti Muwahidun  (541-633H/1146-1235M). Kerajan Murabitun merupakan suatu gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf  Tasyfin di Afrika Utara. Ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy pada tahun (454 H/1062 M). Ia datang ke Spanyol pada tahun 479 H-1086 M, atas undangan penguasa-penguasa negeri-negeri islam yang  terlibat perang saudara dan untuk mempertahankan kerajaan dari serangan orang Kristen. Yusuf berhasil mengalahkan pasukan Castilla. Ia berhasil menguasai Spanyol karena perpecahan raja-raja muslim. Pada tahun 358H-1134M, kerajaan Murabitun berakhir baik  di Afrika  Utara maupun di spanyol di gantikam kerjaan Muwahidun, Zarogosa jatuh ke tangan kristen  pada tahun 512H/1118M pada masa dinasti Murabitun.

Dinasti Muwahidun didirikan oleh Muhammad Ibn Tumart yang berpusat di Afrika Utara. Dinasti ini memasuki Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mu’in. Kota Cardova , Almeria, dan Granada jatuh di bawah kekuasaannya antar tahun 508-509 H/1114-1115 M. Dalam beberapa dekade dinasti ini mengalami kemajuan dan kekuatan Kristen dapat di pukul mundur. Akan tetapi pada tahun 609 H/1212 M, tentara Kristen yang terus menerus mengadakan perlawanan  berhasil memperoleh kemenangan besar di Navas de Tolesa. Kekalahan terus menimpa dinasti Muwahidun, menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 633H/1235M. Spanyol pun terpecah dibawah penguasa-penguasa kecil. Pada tahun 636H/1238M, Cardova ke tangan penguasa Kristen  kemudian menyusul Seville  tahun 646H/1248M. Semenjak itu seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.

Pada periode terakhir  646-898 M/1248 -1492 M Islam hanya berkuasa  di Granada  di bawah dinasti Ahmar (639-898H/1223-1492M. Secara politik kerajaan ini hanya menguasai wilayah kecil. Namun dinasti ini lah penguasa Islam yang berkuasa di Spanyol, dan berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah yang tidak senang terhadap ayah nya karena menunujuk anaknya yang lain (saudara Abdullah) sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merebut  kekuasaan. Dalam pemberontakan itu ayahnya mati terbunuh, dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Karena tidak merasa puas, Abu Abdullah meminta bantuan kepada raja Fedinan dan Isabella. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan  dan menjatuhkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.

Ferdinand dan Isabella tidak merasa puas sebelum mereka merebut kekuasaan Islam di Spanyol. Akhirnya Abdullah pun tidak mampu bertahan  dari serangan -serangan Kristen dan mengaku kalah, dan kemudian ia hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuatan islam di spanyol pada tahun 898 H/1492 M. Umat islam setelah itu dihadapkan dua pilihan, masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol  pada tahun 1018 H/1609 M, boleh tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.[22]

  1. D.  FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Dapat kita bagi pada dua bagian faktor yang menyebabkan kemunduran bahkan kehancuran Spanyol Islam, yaitu:

  1. 1.    Faktor Internal
    1. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan munculnya perebutan kekuasaan diantara ahli waris kerajaan.
    2. Lemahnya figur dan karismatik yang dimiliki khalifah, khususnya sesudah khalifah Al-Hakam II.
    3. Terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam.
    4.  Tatkala umat Islam menguasai Andalusia, kebijakan para penguasa Muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna.
    5. Kesulitan ekonomi.
    6. Munculnya Muluk Thawaif.
    7. 2.      Faktor Eksternal
      1. Keterpencilan spanyol islam  begitu jauh dari pemerintah islam, di Damaskus, bantuan hanya di dapat dari Afrika Utara. Ia selalu berjuang sendirian dan bagiakan dunia terpencil dari dunia islam lainnya.[23]

 

  1. E.     PENGARUHNYA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN ISLAM
    1. 1.      Dalam Bidang Intelektual

Kemunduran dalam bidang intelektual ditandai dengan ketidakmam-puan umat Islam untuk mempergunakan akalnya dalam menegmbangkan ilmu-ilmu keislaman.

ketidakmampuan intelektual tersebut, terlihat dari pernyataan, bahwa “pintu ijtihad telah tertutup”, dan muncul semboyan ad dunya sijnul mu’minin wa jannatu kafir”; artinya “Dunia adalah penjara bagi kaum muslimin dan surga bagi kaum kafir” semboyan tersebut sangat populer ditengah-tengah masyarakat Islam. Akibatnya terjadilah kebekuan intelektual secara total.[24]

  1. 2.      Dalam Bidang Akidah dan Ibadah

Dalam bidang akidah, perbuatan syirik dan khurafat sudah membudaya, sedangkan dalam bidang ibadah adalah dengan masuknya hal-hal yang bersifat bid’ah ke dalam pengamalan ibadah.

Guru-guru, pemimpin-pemimpin rohani dikultuskan[25] dan dijadikn perantara antara hamba dengan Allah. Kuburan dan barang-barang peninggalan orang tua dikeramatkan. Akibatnya kemerdekaan berfikir, semangat untuk mengembangkan dan memperluas daerah Islam dan mencari kebenaran menjadi merosot, yang tumbuh bahkan jiwa serba turut (taqlid), daya cipta menjadi lumpuh. Yang timbul ialah daya imitasi dan kesendirian berakomodasi dengan situasi dan kondisi.[26]

  1. 3.      Dalam Bidang Hukum

Kemunduran dalam bidang hukum disebabkan tertutupnya pintu  ijtihad, maka dalam bidang hukum (fiqh), yang terjadi adalah berkembangnya taklid buta di kalangan umat Islam. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan mereka sangat statis, tidak ada problem-problem baru dalam bidang fiqh yang mereka selesaikan. Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab fiqh lama dianggapnya sebagai suatu ajaran yang benar dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya.

  1. 4.      Dalam Bidang Kurikulum

Kemunduran dalam bidang kurikulum terlihat dari sedikitnya mata pelajaran di lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia Islam. Mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam lebih banyak mata pelajaran agama yang berorientasi kepada kehidupan akhirat seperti fiqh, akhlak, dan tasawuf.

Selanjutnya ilmu-ilmu keislaman yang berorientasi kepada kehidupan dunia, seperti filsafat, ilmu fisika, matematika, biologi, dihilangkan dari kurikulum pendidikan Islam. Bahkan ada lembaga pendidikan Islam yang mengharamkan mempelajari mata pelajaran filsafat.

  1. 5.      Dalam Bidang Karya Ilmiah

Pada masa kemunduran tidak ada lagi buku-buku ilmu keislaman yang dihasilkan oleh para sarjana muslim. Pembelajaran tidak menghasilkan ilmu yang baru tetapi hanya menghasilkan syarah (komentar) bahkan syarah dari syarah (komentar atas komentar).

  1. 6.      Telah Berlebihannya Filsafat Islam (yang bersifat sufistik)

Akibat dari kehancuran dan kemunduran yang dialami oleh umat Islam, terutama dalam bidang kehidupan intelektual dan material, adalah beralihnya secara drastis pusat-pusat kebudayaan dari dunia Islam ke Eropa. Hal ini menimbulkan rasa lemah dari dan putus asa di kalangan masyarakat kaum muslimin. Dalam kondisi seperti ini menyebabkan umat Islam mencari pegangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan kehidupan mereka. Paham/aliran Jabariah dalam Islam mendapatkan tempat di hati masyarakat secara luas. Segala sesuatunya telah dikehendaki oleh Allah, sehingga umat Islam yakin benar terhadap paham Jabariah (fatalisme). Rasa frustasi yang merata di kalangan umat, menyebabkan orang berserah diri kepada Allah.  

 

BAB III

KESIMPULAN

Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah di Spanyol yang merupakan zaman keemasan Islam telah banyak memberikan pengaruh di semua bidang, termasuk di dunia.

Namun, akibat dari khalifah-khalifah lemah yang menduduki kursi kepemerintahan dan adanya konflik internal dalam keluarga kerajaan membuat dua dinasti ini kian lama kian terpuruk, sehingga banyak serangan dari luar kerajaan. Akibatnya pada zaman kemunduran ini seluruh bidang termasuk pendidikan dalam dinasti ini mengalami kemunduran.

Terutama sekali setelah adanya serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan ke Baghdad dan Raja Ferdinand dan Isabella ke Cordova.

Setelah serangan tersebut kegiatan pendidikan benar-benar mengalami kemunduran yang amat pesat seperti: tidak adanya lagi pemikir-pemikir baru, kurikulum dikurangi, kehidupan bersifat fatalistis (pasrah) dan masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan akibat dari hancurnya dua dinasti ini seperti yang telah pemakalah paparkan.

 


[1] Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Kalam Mulia, 2011) hal.151-152

[2] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana, 2007), hal. 185

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:Rajawali Pers, 1993), hal. 69

[4] Ibid, hal.69

[5] Badri Yatim, op.cit, hal. 82

[6] Ramayulis, op.cit, hal. 152

[7] Badri Yatim, op.cit, hal. 82

[8] Ibid, hal. 82

[9] Hidayat Siregar, Sejarah Peradaban Islam Klasik,(Medan:Cita Pustaka Media Perintis, 2010), hal. 101

[10] Syamsul Nizar, op.cit, hal.185

[11] Hidayat Siregar, op.cit, hal. 102

[12] Persekongkolan atau kerja sama

[13] Hidayat Siregar, op.cit, hal. 102

[14] Syamsul nizar, op.cit. hal 187

[15] Murtad

[16] Syamsul nizar, op.cit, hal.188

[17] Ibid

[18] Ibid, hal. 189

[19] Ibid, hal.174

[20] Ibid, hal.189

[21] Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia,2011), hlm. 155

[22] Hasan Asari, Sejarah Peradaban Islam Klasik, (Bandung; Cita Pustaka Media Perintis, 2011), hlm. 118-123

[23] Ramayuli, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia,2011), hlm 156

 

[24] Ramayulis, op.cit, hal 157

[25] Dihormati, penghormatan secara belebih-lebihan

[26] Ramayulis, op.cit, hal. 158Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s