A topnotch WordPress.com site

Aside

Surat dalam AlquranSurah dari segi bahasa jamaknya adalah


Surat dalam Alquran

Surah dari segi bahasa jamaknya adalah suwar yang berarti kedudukan/tempat yang tinggi, sesuai kedudukan al-Quran karena ia diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu Lauhul Mahfuz dari sisi Tuhan yang Mahatinggi pula yatu Allah swt. [1]

Sedangkan menurut istilah adalah

والسورة هي الجملة من ايات القرأن ذات المطلع والمقطع

“surat adalah sejumlah beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan”.

Dari defenisi ini dapat diambil kesimpuan bahwa tidak ada satu surat yang memiliki satu ayat. Minimal itu 3 ayat, seperti surat Al-Kautsar.

Macam-macam surah dilihat dari segi panjang-pendeknya, ada 4 macam jenis surat, yaitu:

  1. Surat At-Thiwal (الطوال ) , yaitu surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100-200-an. Ada 7 surat dalam pembagian ini, oleh karena itu disebut Assab’u Thiwal

-          Al-Baqarah 286 ayat

-          Ali Imran 200 ayat

-          An-Nisa 176 ayat

-          Al-Maidah 120 ayat

-          Al-An’am 165 ayat

-          Al-A’raf 206

-          Al-Anfal ( 75 ayat) disambung surat Al-Taubah (129 ayat) karena  surah tersebut tidak ada pemisah dengan basmalah, sebagian pendapat mengatakan surat Yunus (108 ayat).

  1. Surat Al-Mi’un (المئون)

Yaitu surat yang jumlah ayatnya seratus atau lebih

 

  1. Surah Al-Matsani(المثاني)

Surat yang ayatnya kurang  dari 100

  1. Surah mufassahl(المفصل)

Yaitu surat yang panjang ayatnya mendekati surat matsani. Ini disebut juga dengan surat pendek.

Jenis ini juga dibagi lagi menjadi 3 bagian:

  1. At-Thiwal
  2. Al-awshath
  3. Al-qishar

Dari segi masa turunnya, ada dua pembagian surah yaitu:

  1. Madaniyah
  2. Makkiyah

      Surah-surah yang tergolong Makkiyah sebanyak 82 surah dari 114 surah dalam Alquran, surah madaniyyah sebanyak 20 surah, sedangkan sisanya sebanyak 12 surah diperselisihkan di kalangan pura ulama ada yang mengatakan Makiyah dan ada pula yang berpendapat Madaniyah. Untuk mengetahui secara mendetail tentang posisi surah, baik dari segi turunnya maupun dari segi urutan dalam mushaf, Berikut ini akan dipaparkan secara terjadwal uruan turunnya surah dalam Alquran:

Nomor Urut Mushaf

Nomor Urut Turun

Nama-Nama Surat

Makiyah/ Madaniyah

Jumlah Ayat

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

88

89

90

91

92

93

94

95

96

97

98

99

100

101

102

103

104

105

106

107

108

109

110

111

112

113

114

05

87

87

89

112

55

39

88

113

51

52

53

96

72

54

70

50

69

44

45

73

103

74

102

42

47

48

49

85

84

57

75

90

58

43

41

56

38

59

60

61

62

63

64

65

66

95

111

106

34

67

76

23

37

97

47

94

105

101

91

109

110

104

108

99

107

77

2

78

79

71

40

3

4

31

98

33

80

81

24

7

82

86

83

27

36

8

68

10

35

26

9

11

12

28

1

25

100

93

14

30

16

13

32

9

29

17

15

18

114

6

22

20

21

Al-Fatihah

Al-Baqarah

Ali Imran

An  Nisa

Al Maidah

Al An’am

Al A’raf

Al Anfal

At Taubah

Yunus

Hud

Yusuf

Ar Ra’d

Ibrahim

Al Hijr

An Nahl

Al Isra

Al Kahfi

Maryam

Thaha

Al Anbiya

Al Hajj

Al Mukminun

An Nur

Al Furqon

Asy Syu’ara

An Naml

Al Qashas

Al Ankabut

Ar Rum

Luqman

As Sajdah

Al Ahzab

Saba

Father

Yasin

Ash Shafat

Shad

Az Zumar

Al Mu’min/ Ghafir

Fushilat/ Hamim As  Sajdah

As Syura

Az Zukhruf

Ad Dukhan

Al Jatsiyah

Al Ahqaf

Muhammad/Al Qital

Al Fath

Al Hujurat

Qaf

Adz Dzariyat

Ath Thur

An Najm

Al Qamar

Ar Rahman

Al Waqi’ah

Al Hadid

Al Mujadalah

Al Hasyr

Al Mumtahinah

Ash Shaf

Al Jumu’ah

Al Munafiqun

At Taghabun

At Thalaq

At Tahrim

Al Mulk

Nun/ Al Qalam

Al Haqqah

Al Ma’arij

Nuh

Al Jinn

Al Muzammil

Al Muddatsir

Al Qiyamah

Ad Dahr/ Al Insan

Al Mursalat

An Naba

An Nazi’at

‘Abasa

At Takwir

Al Infithar

At-Tathfif/Al Muthaffifin

Al Insyiqaq

Al Buruj

Ath Thariq

Al A’la

Al ghasiyah

Al Fajr

Al Balad

Asy Syamsu

Al Lail

Adh Dhuha

Al Insyirah

At Tin

Al ‘Alaq

Al Qadar

Al Bayyinah

Al Zilzal

Al ‘Adiyat

Al Qari’ah

At Takatsur

Al Ashr

Al Humazah

Al fil

Al Quraisy

Al Ma’un

Al KAutsar

Al KAfiruun

An NAshr

Al Lahab/ Tabbat

Al Ikhlas

Al Falaq

An Nas

Diperselisihkan

Madaniyah

Madaniyah

Madaniyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Madaniyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Diperselisihkan

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Madaniyah

Madaniyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Diperselisihkan

Makiyah

Madaniyah

Madaniyah

Madaniyah

Makiyah

Diperselisihkan

Madaniyah

Madaniyah

Diperselisihkan

Madaniyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Madaniyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Diperselisihkan

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Diperselisihkan

Diperselisihkan

Diperselisihkan

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Makiyah

Madaniyah

Makiyah

Diperselisihkan

Diperselisihkan

Diperselisihkan

07

286

200

176

120

165

206

75

129

109

123

111

43

52

99

128

111

110

98

135

112

78

118

64

77

227

93

88

69

60

34

30

73

54

45

83

182

88

75

85

54

53

89

59

37

35

38

29

18

45

60

49

62

55

78

96

29

22

24

13

14

11

11

18

12

12

30

52

52

44

28

28

20

56

40

31

50

40

46

42

29

19

36

36

22

17

19

26

30

20

15

21

11

8

8

19

5

8

8

11

11

8

3

9

5

4

7

3

6

3

5

4

6

6

 

Dari daftar di atas dapat disimpulkan bahwa nomor urutan surah yang terdapat pada Al-Quran tidak disesuaikan dengan urutan turunnya, melainkan bersifat tauqifi, yakni disesuaikan dengan urutan bacaan/ tadarus yang diperintahkan Rasulullah saw.

Jumlah surah

Jumlah surah dalam Alquran mayoritas ulama mengatakan 114 surah, namun sebagian ulama mengatakan bahwa jumlahnya 113 saja karena tidak adanya pemisah basmala pada surat At-Taubah sehingga surat Attaubah dihitung sebagai bagian dari sebelumnya yaitu  surat Al-Anfal. Golongan Syiah menghitung sebanyak 116 surat karena mereka memasukkan dua doa qunut yang dinamai Surah Al-Khal dan Al-Hafd.  Abdul Mujib Khon mengutip pendapat dari Al Baqilani dalam kitabnya I’jaz Al-Quran, menyebutkan bahwa dua doa qunut itu memang  ditulis oleh Ubay di kulit Mushaf Alquran, sehingga timbullah dugaan mereka bahwa dua doa itu terrmasuk surat Alquran, padahal uslubnya saja berbeda dengan Al-Quran.

Ayat dalam Al-Qur’an.

Ayat secara istilah adalah tanda/ bukti. Ini sesuai dengan QS Al Mukminun :50

Sedangkan menurut istilah adalah

ولأية هي الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرأن

“Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang masuk  ke dalam  Surah Alquran.

Jumlah Ayat

Sejumlah ulama berbeda pendapat dalam jumlah ayat Alquran. Menurut Ibnu Abbas sebanyak 6.616 ayat,sedangkan keterangan yang mahsyur berjumlah 6.666. jumlah inilah yang paling mudah diingat oleh umat muslim. Para ulama sepakat angka depan dari jumlah ayat itu adalah 6000, tapi mereka berbeda pendapat mengenai angka berikutnya. Hal ini disebabkan oleh:

  1. Karena Nabi pada suatu ketika mewaqafkan akhir suatu ayat. Ketika sudah dimaklumi oleh para sahabat banyak, di lain waktu belaiu mewashalkannya. Oleh sebagian pendengar menduga bukan akhir ayat.
  2. Para ulama berbeda dalam menghitung Fawatih Assuwar yang terdiri dari huruf hijaiyah. Sebagian ulama ada yang menghitungnya sebagai ayat, sebagian lagi tidak. Seperti المص, يس, كهيعص  

Perbedaan penghitungan jumlah ayat tersebut hanya karena berbeda dalam menghitung sebagian ayat-ayat Alquran apakah waqaf Nabi pada saat membacanya dihitung satu ayat atau tidak.

Jumlah kata dan huruf dalam Alquran

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai jumlah kata dalam Alquran. Di antara mereka  ada yang menghitung sebanyak 77.934 kata, 77.437 kata dan 77.277kata. perbedaan hitungan ini karena adanya perbedaan cara penghitungan, ada yang memandang maknanya dari segi majaz, ada juga yang menghitungnya secara hakekat, ada yang menghitungnya dari segi tulisan, ada juga yang menghitung didasarkan pada suara dan ada pula yang menghitung keduanya.

Tentang jumlah huruf Alquran, juga terjadi perbedaan. Menurut Ibnu Abbas, segala huruf yang terkandung dalam Alquran sebanyak 323.617, ada juga yang menghitung 325.345, 321.267 dan 1.025.000. hitungan terkahir inilah yang mudah dihapal.

Perbedaan ini disebabkan karena huruf bertasydid ada yang menghitung dua, dan ada juga yang menghitungnya satu huruf. Sebab lain adalah, pada huruf yang dibaca panjang, ada yang menghitungnya satu huruf, ada yang menghitungnya dua huruf.

Al-Qur’an pada masa khalifah Usman            

Sebagaimana telah dijelaskan pada zaman dahulu bahwa pengaruh Islam pada masa khalifah Umar sudah sangat luas. Dan usaha ini dilanjutkan oleh khalifah Usman bin Affan. Pada zaman Usman ini, perluasan wilayah sudah sampai ke Tripoli (Afrika Utara), Armenia dan Azerbaijan (dekat Laut Kaspia), serta di daerah Afghanistan seperti Heart, Qabul dan Ghazni.[2]

umat Islam yang tersebar luas ini mendapatkan pelajaran dan menerima bacaan Alquran dari masing-masing sahabat yang ditugaskan di daerah masing-masing. Versi qiraat dan yang dimiliki dan diajarkan  sahabat ahli qiraat ini berbeda-beda sehingga berdampak negative pada kaum muslimin karena mereka semua membanggakan versi qiraat masing-masing.

Orang yang mula-mula mengetahui adanya gejala perpecahan ini adalah seeorang sahabat yang berama Hudzaifah bi Yaman. Ketika dalam perjalanan, beliau pernah mendengar pertikaian ini dan pernah mendengar perkataan seorang muslim kepada temannya “Bcaan saya lebih baik baik dari bacaanmu”.

Beliau langsung melapor kejadian ini kepada Khalifah Usman dan mengusulkan agar khalifah menyeragamkan bacaan mereka dengan cara menulis kembali Alquran. Khalifah menyetujui usulan ini dan mengundang para sahabat untuk menyelesaikan maslaah tersebut.  Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa mushaf yang ditulis pada masa Abu Bakar ditulis kembali menjadi beberapa mushaf yang nantinya akan dikirim ke beberapa kota untuk dijadikan rujukan bagi kaum muslimin.[3]

Adapun langkah yang beliau ambil adalah:

  1. Meminjam naskah yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit pada masa Khalifah abu Bakar yang disimpan oleh HAfsah binti Umar guna disalin kembali.
  2. Membentuk panitia penulis Alquran yang terdiri dari:
    1. Zaid bin Tsabit sebagai Ketua
    2. Abdullah bin Zubair
    3. Sa”id bin Ash
    4. Abdurrahman bin Harits bin Hisyam.

Tim ini bertugas untuk menyalin dan menuliskan kembali ayat-ayat Alquran dari lembaran-lembaran naskah Abu Bakar agar menjadi mushaf-mushaf yang lebih sempurna. Di dalam pelaksanaan tugasnya, khalifah Usman bin Affan memberikan garisan-garisan kepada panitia terseebut, yaitu:

  1. Dalam menyalin, panitia juga harus berpedoman pada hafalan para saahabat
  2. Jika terdapat perbedaan antara mereka tentang bacaan dalam ayat Alquran, maka tulislah dalam ejaan suku Quraisy
  3. Dalam menyusun tertib urut surat, hendaklah  diatur sebaik-baiknya menurut cara tertentu, berdasarkan ijtihad  mereka.

Tim penulis ini berrhasil menyalin mushaf ini dalam beberapa jumlah untuk dikirim ke beberapa daerah Islam dan dijadikan standar bagi seluruh umat Islam. Sebagian pendapat menyatakan bahwa alquran itu dikirim ke Mekah, Damaskus, Kuffah, Basrah  dan MAdinah. Kemudian menginstruksikan  bahwa selain Mushaf Usman itu agar segera dibakar. Umat Islam menyambut baik dan mematuhi instruksi ini. Setelah selesai menyalin, naskah Abu Bakar yang tadinya diambil dari Hafsah binti Umar dikembalikan lagi.[4]

Perbedaan penghimpunan dan pengkodifikasian Alquran antara mas Khalifah Abu Bakar dan masa Khalifah Utsman bin Affan:

  1. Latar belakang

Pada msaa Abu Bakar, penghimpunan Alquran diebabkan perginya para pengahapal Alquran, sedangkan masa Utsman bin Affan disebabkan oleh banyaknya bacaan Alquran yang berbeda.

  1. Teknik penghimpunan dan pembukuan.

Pada masa Abu Bakar dihimpun dari dokumentasi yang tercecer, dan penulisannya mengandung 7 dialek, sdangkan masa Utsman, penulisan disatukan dalam bentuk huruf, yakni bahasa Quraisy.

 

 

 

FAWATIH SUWAR (اتح السّوارفو(

  1. PENGERTIAN FAWATIH SUWAR (اتح السّوارفو(

Dari segi bahasa Fawatih Suwar ( (فواتح السّوار berasal dari dua kata, yaitu فتح yang berarti membuka dan سورة seperti yang telah dijelaskan di atas adalah surat. Fawatih merupakan  bentuk jamak dari isim fail “faatih” yang berarti pembuka. Sedangkan suwar adalah bentuk jamak dari kata surah yang berarti surat. Jadi, dari segi bahasa fawatih suwar berarti pembuka-pembuka surat. Huruf ini juga sering disebut ahraf muqaththa’ah (huruf-huruf potong atau terpisah), karena posisi dari huruf tersebut cenderung “menyendiri” dan tidak tergabung membentuk satu kalimat secara kebahasaan.[5]

Diantara ciri-ciri surat makkiyah ialah banyak surat-suratnya dimulai dengan huruf muqaththaah (huruf potong) dalam kelompok fawatih al suwar (pembuka-pembuka surat).

Berikut ini adalah daftar surah yang terdapat huruf muqaththa’ah ataupun fawatih suwar:

No

Nama surat

Surat ke

Huruf muqaththa’ah

Jumlah huruf muqaththaah

Klasifikasi ayat

sebagai

1

Al-baqarah

2

Alif lam mim

3

Madaniyah

Ayat

2

Ali imran

3

Alif lam mim

3

Madaniyah

Ayat

3

Al-A’raf

7

Alif lam mim shad

4

Makkiyah

Ayat

4

Maryam

19

Kaf ya ‘ain Shad

4

Makkiyah

Ayat

5

Thaha

20

Tha ha

2

Makkiyah

Ayat

6

Asy Syu’ara

26

Tha sin mim

3

Makkiyah

Ayat

7

Al-Qashash

28

Tha sin mim

3

Makkiyah

Ayat

8

Al-Ankabut

29

Alif lam mim

3

Makkiyah

Ayat

9

Ar-Rum

30

Alif lam mim

3

Makkiyah

Ayat

10

Luqman

31

Alif lam mim

3

Makkiyah

Ayat

11

As-Sajdah

32

Alif lam mim

3

Makkiyah

Ayat

12

Yasin

36

Ya sin

2

Makkiyah

Ayat

13

Al-Mukmin

40

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

14

Hamim Sajdah

41

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

15

Asy-Syura

42

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

16

Az-Zukhruf

43

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

17

Ad-Dukhan

44

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

18

Al-Jatsiyah

45

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

19

Al-Ahqaf

46

Ha mim

2

Makkiyah

Ayat

20

Yunus

10

Alif lam mim ra

4

Makkiyah

Bagian dari ayat

21

Hud

11

Alif lam ra

3

Makkiyah

Bagian dari ayat

22

Yusuf

12

Alif lam ra

3

Makkiyah

Bagian dari ayat

23

Ar-Ra’du

13

Alif lam mim ra

4

Makkiyah

Bagian dari ayat

24

Ibrahim

14

Alif lam ra

3

Makkiyah

Bagian dari ayat

25

Al-Hijr

15

Alif lam ra

3

Makkiyah

Bagian dari ayat

26

An-Naml

27

Tha Sin

3

Makkiyah

Bagian dari ayat

27

Shad

38

Shad

1

Makkiyah

Bagian dari ayat

28

Qaf

50

Qaf

1

Makkiyah

Bagian dari ayat

29

Nun

68

Nun

1

Makkiyah

Bagian dari ayat

 

Bila dilihat tabel di atas, kita dapat melihat bahwa huruf muqaththa’ah yang membuka surat ada yang terdiri dari satu, dua, tiga, dan empat huruf.

Dan dapat pula kita lihat dari tabel di atas kita juga dapat mengetahui bahwa huruf-huruf muqaththaah yang terdapat di awal surat ada yang dihitung sebagai satu ayat dan ada juga yang tidak menghitungnya sebagai satu  ayat. Hal ini adalah berdasarkan ulama Kufah. Penetapan ini adalah berdasarkan tauqify dari nabi saw. karena qiyas dan ra’yu tidak memiliki ruang terhadapnya. Ia semata-mata merupakan pengajaran dan bimbingan. Dalilnya adalah bahwa ulama menghitung المص sebagai satu ayat, dan tidak menghitung padanannya , yakni المر sebagai satu ayat. Seandainya dasarnya adalah qiyas, tentu dua hal yang sepadan akan dianggap sama, tidak dibedakan seperti itu.[6]

Menurut Ahmad Syarbashi : “huruf-huruf muqhaththaah diletakkan di permulaan surat untuk menarik perhatian pendengaran, ia memiliki sifat-sifat khusus dalam bacaan dan bagi yang mendengarkannya. Dengan demikian pendengar akan memperhatikan kalimat yang setelahnya. Huruf-huruf tersebut menunjukkan kehebatan al-Qur’an. Ketika Rasulullah membacakan huruf-hurf itu, mereka (orang-orang musyrik) heran dan takjub sehingga mau membuka telinga untuk mendengarkan al-Qur’an dan menjadikannya hujjah.[7]

  1. KEDUDUKAN FAWATIH SUWAR (اتح السّوار فو)

Al-Quran banyak memiliki keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan. Fawatih suwar merupakan salah satu realitas keistimewaan misterius yang terdapat dalam Al-Quran. Pemaparan tentang Fawatih Suwar khususnya huruf-huruf muqaththa’ah, tidak banyak bahkan hampir tidak ada yang berhasil mengungkapkan latar belakang atau pun keterangan yang valid secara historis bisa membuktikan hubungan-hubungan fawatih suwar.

Menurut As Suyuthi, pembuka-pembuka surat (awail al suwar) atau huruf-huruf potong ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat mutasyabihat para ulama berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkannya. Pendapat tersebut terbagi dua, yaitu: pertama, ulama yang memahaminya hanya Allah saja yang mengetahuinya. Kedua,pendapat yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat, sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian yang dapat dipahami oleh manusia. Menurut Ibnu Qutahibah : “bahwasanya Allah tidak menurunkan sedikitpun dari al-Qur’an melainkan agar hambaNya mengambil manfaat dan mengetahui makna yang dimaksud.

Berikut ini adalah pendapat ulama tentang fawatih suwar/huruf-huruf muqaththaah yang terdapat pada awal surat:

  1. Diantara ulama berpendapat bahwa huruf-huruf pembuka surat itu merupakan nama bagi surat-surat. Surat-surat yang dibuka dengan huruf itu akan lebih mudah diketahui, karena huruf tersebut bisa menjadi petunjuk dari macam ragam surat yang ada. Apabila seseorang membaca “Alif lam Mim” maka ia menjadi petunjuk kepada apa yang dibaca.
  2. Menurut Ibnu Abi Asba’, berpendapat bahwa pembuka-pembuka surat itu untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk-bentuk penyampaian, dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf.
  3. Abu Mas’ud berpendapat, bahwa tiap-tiap awal surat merupakan ilmu yang disembunyikan dan rahasianya tertutup oleh kekuasaan Allah. Hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman dan latar belakang pengetahuan mereka, sehingga untuk makna yang hakiki ayat tersebut dikembalikan kepada Allah. Al-Qutubi, ia mengatakan bahwa : “aku tidaklah melihat keberadaan huruf-huruf muqaththaah kecuali terdapat di awal surat. Sedangkan aku sendiri tidak menangkap maksud-maksud tertentu yang dikehendaki Allah swt.
  4. Sebagian ulama memandang sebagai tanbih (peringatan) kepada Rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akanm disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandang sebagai peringatan kepada orang Arab agar mereka mendengarkannya dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah selalu merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena orang-orang Arab selalu bertingkah keras hati dan enggan mendengarkan kebenaran yang perlu diberi peringatan agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.
  5. Mujahid, seorang tabi’in berpendapat: “ permulaan surat dengan huruf-huruf potong itu dimaksudkan sebagai peringatan atau menyadarkan si pembaca akan pentingnya makna pada ayat berikutnya. Kebiasaan demikian pada syair yang dibuat orang Arab pada masa itu adalah dengan memakai huruf tanbih (peringatan untuk menarik orang) seperti “ala” atau “ama” yang berarti “ingatlah”. Al-Quran memunculkan sesuatu yang baru yang tidak dikenal oleh manusia sebelumnya untuk menunjukkan keistimewaan al-Quran itu bagi si pendengar.[8]

 

Perbedaan pendapat di atas menunjukkan bahwa tidak adanya kepastian akan tetapnya makna yang hakiki tentang maksud Allah meletakkan huruf-huruf muqaththa’ah di awal surat tersebut. Wallahu a’lam bis shawwab.

Keseluruhan huruf muqaththaah yang menjadi pembuka surat tersebut tanpa diulang berjumlah empat belas huruf atau setengah dari keseluruhan huruf hijaiyah. Karena itu para mufassir berpendapat bahwa huruf-huruf yang mengawali surat-surat itu disebut dalam al-Quran untuk menunjukkan bahwa kitab suci tersebut tersusun dari huruf-huruf tahajji yang diketahui secara umum. Hal ini dimaksud agar orang-orang Arab mengerti dengan jelas bahwa al-Quran itu diturunkan dengan huruf-huruf yang mereka kenal. Ini menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka membuat semisal Al-Quran.[9]

Firman Allah Swt. dalam QS.Al-Baqarah ayat 24 :

bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u‘$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÅsø9$#ur ( ôN£‰Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ  

24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

 

Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan al-Quran dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.

 

 

  1. Aspek-aspek yang berkaitan dengan fawatih suwar
  2. Aspek kemukjizatan

Kata mukjzat terambil dari kata bahasa Arab “ajaza” yang berarti “melemahkan atau menjadi tidak mampu”. Pelakunya (yang melemahkan) disebut mu’jiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, maka ia dinamai “mu’jizat”. Tambahan ta marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah.[10]

Yang dimaksud dengan i’jaz (kemukjizatan) dalam pembicaraan ini adalah menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Jadi mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[11]

Al-Quran adalah mukjizat dalam semua seginya, dalm semua keadaannya.

Huruf-huruf muqaththaah yang terdapat di awal surat juga  termasuk salah satu dari kemukjizatan al-Quran. Disebutkan huruf-huruf itudi awal-awal surat sebagai bukti kemukjizatan al-Quran di mana manusia dan jin tidak mampu membuat yang semisal dengannya, padahal al-Quran itu tersusun dari huruf-huruf yang terputus-putus itu biasa mereka pakai dalam percakapan.[12]

 

  1. Aspek bacaan lafadznya

Masing-masing fawatih suwar itu, baik yang terdiri dari satu atau lebih bukanlah merupakan kata-kata yang terdapat dalam perbendaharaan kata-kata bahasa Arab. Sebab itu ketika mereka mendengar Fawatih Suwar itu dibacakan oleh rasulullah untuk pertama kali, mereka heran dan tidak mengerti apa maksudnya. Oleh karena itu, ia tidak merupakan kata-kata, maka huruf-huruf tersebut walaupun dirangkaikan satu sama lainnya, maka ia tidak dibaca menurut harakatnya, namun ia dibaca menurut huruf itu masing-masing.

Jadi huruf-huruf muqaththaah yang mengawali beberapa surat dalam al-Quran, harus dilafalkan huruf demi huruf, yakni dibaca satu huruf demi satu huruf.[13]

 


 

[2] Em Dasril, Sejarah Alquran, Padang:IAIN IB Press, 2001), h. 76

[3] Quraish Shihab dkk, Sejarah dan Ulumul Alquran, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 30

[4] Abdul Majid Khon, Praktikum Qiraat,(Jakarta: Amzah, 2007), h. 27

[5] Hasymi,Munasabah Fawatih Al-Suwar Dengan Ayat-Ayat Yang Mengiringinya Dalam Al-Qur’an,(Padang:Hayfa Press,2011), hal.59

[6] Syeikh Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani,Manahil Al-Urfan Fi Ulum al-Qur’an(Ciputat:Gaya Media Pratama,2001),hal.358-359

[7] Ibid,hal.62

[8] Hasymi,Munasabah Fawatih Al-Suwar Dengan Ayat-Ayat Yang Mengiringinya Dalam Al-Qur’an,(Padang:Hayfa Press,2011), hal.69-75

[9] Subhi as-Shalih,Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran,(Beirut:Pustaka Firdaus,1985) hal.304

[10] Hasymi,Op.cit. hal.75

[11] Manna Khalil al-Qaththan,Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,(Jakarta:Litera Antarnusa,1973),hal. 371

[12] Hasymi,Op.cit. hal.77

[13] Ibid,hal.79Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.